Selasa, 15 September 2015

Seindah Apa pun Masa Lalu, Tetaplah Masa Lalu

BANYAK di antara kita yang sibuk mengenang masa lalu hingga lupa bahwa seindah apa pun masa lalu tetaplah masa lalu. Apalagi yang mencoba membandingkan pasangan saat ini dengan orang di masa lalu, itu sebuah kebodohan yang terencana.

Alasannya sederhana saja, akibat tindakan perbandingan itu, segala kebaikan pasanganmu saat ini masih saja dianggap tak sebanding dengan kebaikan orang di masa lalu yang mengindahkan penghidupanmu. Bukankah ini akan menjadikan keadaan buruk adanya? Mengertilah, seindah apapun perlakuan yang diberikan orang di masa lalumu namun apabila dirinya tega meninggalkanmu dengan beragam alasan, sesungguhnya segala keindahan itu palsu, ada sebuah kepentingan hingga mengharuskan membuat hidupmu indah-saat kepentingannya tercapai dan dirimu dianggap bukan lagi sesuatu yang penting, maka dia membuangmu begitu saja.

Sadarilah hidup dalam kenangan tidak lebih baik dari kenyataan, berikan kesempatan pada pasanganmu saat ini untuk memberikan kebaikannya dengan tulus dan terimalah kebaikan itu sebagai sesuatu yang indah, hingga perlahan namun pasti segala keindahan masa lalumu dapat tertutupi dengan keindahan yang engkau dapatkan saat ini. Dengan begitu, kehidupan cintamu dapat menemu damai yang memenuhi jiwa dengan bahagia.

Mulailah belajar lebih giat untuk mencintai seseorang yang mendampingimu saat ini. Lihat ketulusannya dalam memberi, mengabdi, dan menyayangi. Tataplah matanya dan rasakanlah kejujuran cinta yang telah diberikan lewat perbuatannya. Tak ada cinta yang lebih indah selain perbuatan melindungi, mengasihi dan menyayangi secara nyata. Kesempurnaan dalam cinta ialah kesanggupan kerja cinta itu sendiri. Lihatlah betapa tekun pendampingmu bekerja membuktikan bahwa dirinya ialah pasangan terbaik bagimu. Lalu tega-teganya pikiranmu dijejali dengan pekerjaan yang sudah dilakukan orang di masa lalumu-seseorang yang tega meninggalkanmu.

Jangan terlambat menyadari ketulusan seseorang yang mendampingimu saat ini. Meski kesabaran tak ada batasnya, namun bisa jadi pendampingmu saat ini akan merasa jenuh apabila segala apa yang sudah dilakukannya untuk membuktikan kesungguhan cintanya padamu masih belum dirimu hargai dengan pantas. Apabila kejenuhannya memuncak, dirimu akan menyesal seumur hidup karena gagal menemukan cinta sejati. Pada akhirnya dirimu bahkan tak akan sanggup membayangkan bagaimana caramu meyakinkannya. Meyakinkan dirimu teramat menyesal sudah menyia-nyiakan kemuliaan cinta yang selama ini dipersembahkan untukmu. 

Arief Siddiq Razaan, 14 September 2015
https://www.islampos.com/