Selasa, 15 September 2015

Cinta, Setelah Pergi Baru Ada Sesal

ADA saatnya kita hanya ingin sendiri, berteman lagu-lagu kesedihan lalu tanpa sadar meneteskan air mata-karena ada kenangan yang muncul begitu sempurna dalam dada. Entah itu perihal sahabat, orang tua, serta orang-orang terkasih terutama menyangkut kebersamaan yang belum kita nikmati secara utuh, dimulai tawa, tatapan mata, hingga percakapan-percakapan yang mencipta sesuatu penanda perihal ‘rasa’.

Lalu terpikir satu harap sederhana, ‘andai aku bisa mengulang itu semua …’ Perlahan kita menghela napas, sambil memejamkan mata dan sekali lagi kita hanya mampu menuliskan segalanya lewat tetes air mata.

Begitulah yang semakna dengan cinta; setelah pergi baru ada sesal yang mengoyak jiwa, kesepian menjadi-jadi. Padahal saat melewati kebersamaan kita kerap merasa biasa saja, harusnya kita menyadari sesuatu yang sederhana kadang jauh lebih berharga dari segalanya.

Contohnya saat orang yang dicinta berujar, ‘aku lelah,’ itu bukan keluhan tetapi upaya untuk melibatkanmu dalam segala hal menyangkut hidupnya bahwa sebaik-baik tempat berbagi hanya kepada orang yang dicintai. Dan kadang untuk perkara sederhana ini saja kita kurang memahaminya.

Cinta itu memberi peluang orang yang dicinta untuk membuat nyaman, jadi kenyamanan itu dimulai dari kesanggupan kita mendengar cerita orang yang kita cintai-apapun itu, meski sekadar remeh temeh. Namun itulah cara yang disediakan oleh orang yang kita cintai untuk kita masuki kebijaksanaan, keluhuran, dan kesantunan hati yang membahagiakannya.

Percayalah, sesuatu yang kita maknai kesempurnaan justru kekurangan yang diberikan pasangan untuk kita lengkapi. Sebab kesempurnaan itu tercipta apabila kita menerima sesuatu yang belum sempurna dengan cara sempurna-yakni melengkapinya melalui kerja ahlak dan tindak diri kita sepenuh jiwa

30 Juli 2015 oleh: Arief Siddiq Razaan
https://www.islampos.com/