Rabu, 16 September 2015

Cermin Sejarah dan Pemimpin Bangsa



Senin (10/8) pagi, Anhar Gonggong menerima kami dengan senyuman di ruang tamu rumahnya di bilangan Pondok Gede, Bekasi. Rambutnya tetap agak gondrong (belakangan Anhar bercerita, sejak menjadi mahasiswa, rambutnya sudah dibiarkan panjang).

Tubuhnya tipis menjulang, seolah bersaing dengan deretan rak-rak buku di dinding yang nyaris menyentuh langit-langit rumah. Di ruang tamu itu kami berbincang tentang sejarah, Indonesia, dan kepemimpinan. Tokoh dan pemimpin besar menggerakkan dan mengarahkan sejarah. Di Indonesia, para pemimpin dengan kekuatan bersama menciptakan kemerdekaan dan melahirkan negara bangsa.

Sebagai sejarawan politik, Anhar pun terpesona dengan para tokoh. Anhar pernah menulis buku tentang HOS Tjokroaminoto, tokoh nasionalis dan pemimpin Sarekat Islam. Anhar juga menulis tentang MGR Soegijapranata SJ, pemimpin gereja Katolik pertama di Indonesia dari kalangan pribumi. Ketika masa pemerintahan darurat di Yogyakarta, Soegijapranata, yang kisahnya telah diangkat sebagai film, mencatat berbagai peristiwa dan mengkritik aksi militer Belanda.

Anhar pun mendalami sosok kontroversial dan misterius Kahar Muzakkar yang identik dengan DI/TII pada 1950-an di Sulawesi Selatan. Disertasinya untuk meraih gelar doktor sejarah juga tentang Kahar. Bagi Anhar, sekalipun berbeda ideologi, cara pandang dan pendapat pemimpin sejati memiliki sejumlah karakter serupa.

Kepada siapa sebetulnya kita berutang budi atas lahirnya Republik Indonesia?

Pertama, kita paling berutang budi kepada generasi pergerakan nasional, mulai dari Soetomo (dokter dan salah satu tokoh pendiri organisasi pemuda Budi Utomo pada 20 Mei 1908) sampai Soekarno (proklamator). Orang-orang pergerakan itu adalah orang-orang terdidik yang tercerahkan. Andaikata cuma terdidik, dia bisa saja hanya bekerja dengan Pemerintah Belanda dan hidup enak. Soetomo seorang dokter, Soekarno itu insinyur, Hatta dengan gelar doktorandus ekonomi dari negeri Belanda, dan HOS Tjokroaminoto lulusan sekolah pamong praja, tentu berkesempatan untuk bekerja dengan Belanda. HOS Tjokroaminoto, misalnya, jika dia bekerja sebagai ambtenaar (pegawai negeri) sewajarnya saja, pada saatnya dia pasti akan mendapatkan posisi tertentu yang tinggi di mata pribumi. Namun, para pemimpin itu, Soekarno, Hatta, dan HOS Tjokroaminoto dan lain-lain, merevolusi dirinya terlebih dahulu, mereka tidak menikmati kehidupan kolonial. Dengan kecerdasannya, mereka melihat masyarakat menderita dan ingin mengubah itu. Itulah generasi yang melakukan revolusi mental.

Bagaimana dengan para pemimpin sekarang?

Dalam konteks sekarang, muncul juga pemimpin-pemimpin yang cerdas, tetapi banyak pula yang hati dan mentalnya beku. Orang-orang dengan gelar profesor dan doktor masuk penjara karena menjadi ”garong republik”.

Kepada siapa lagi kita ”berutang” demi kemerdekaan?

Kedua, republik ini dipertahankan dan dibangun oleh anak-anak muda. Ketika dokter Soetomo mendirikan Budi Utomo (organisasi pemuda), dia dan pendiri lainnya itu umurnya 18 hingga 20-an tahun. Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada usia 26 tahun dan menulis artikel berjudul Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme yang sangat penting pada usia 25 tahun. Artikel itu yang diolah Soekarno menjadi Nasakom (nasionalisme, agama, dan komunisme, sebuah konsep politik). Hatta juga sudah menulis ketika muda. Rata-rata ketika merdeka dan yang tampil sebagai Angkatan 1945 itu para pemuda, termasuk tentara pelajar dengan usia 15-16 tahun.

Bagaimana generasi penggerak itu terbentuk?

Pendidikan. Para tokoh pergerakan adalah orang-orang terdidik. Karena itu, posisi pendidikan penting. Tanpa pendidikan belum tentu kita merdeka. Ada kondisi tertentu pada saat itu, yakni pendidikan, digunakan untuk refleksi. Yang salah sekarang, pendidikan kita tidak mendorong untuk berefleksi. Kita menjadi sarjana, ya, sarjana. Kita segera cari pekerjaan bagi kepentingan diri, hidup enak, punya rumah besar, dan mobil. Orang lain, urusan amat. Dalam konteks sekarang, saya juga melihat terjadinya anarkis pendidikan. Ada kasus orang yang hanya kuliah enam bulan, setiap akhir pekan bisa jadi doktor, banyaknya jasa pembuatan skripsi hingga doktor, dan ijazah palsu. Kita butuh pendidikan yang mencerahkan otak dan mental. Hanya itu yang akan menyelamatkan Indonesia.

Lebih banyak pejabat

Anhar rela berseberangan pendapat dengan orangtuanya demi pendidikan. Setelah lulus SMA, Anhar diminta keluarga membantu usaha perdagangan kopra. Namun, Anhar menolak. Dia ingin melanjutkan pendidikan ke Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Berbekal sedikit uang, Anhar nekat pergi ke Yogyakarta sendiri. Keluarga Anhar marah besar sebelum akhirnya mereda tiga bulan kemudian.

Belajar dari para tokoh sejarah, menurut Anda, apa definisi pemimpin?

Saya mendefinisikan pemimpin itu sangat sederhana, yakni orang yang mampu melampaui diri. Indonesia sekarang tidak memiliki pemimpin, tetapi lebih banyak pejabat. Di partai, misalnya, yang ada adalah pejabat partai, bukan pemimpin. Sebagai contoh dari masa lalu, Haji Agus Salim (pemimpin Sarekat Islam). Dia hidup menderita. Pada waktu berjuang, dia gelar tikar di rumah kontrakan. Pagi hari dia bangun dan gulung lagi tikar itu. Begitu terus sampai Indonesia merdeka. Setelah kemerdekaan dan dia menjadi menteri, hidupnya pun tidak berlebihan (Agus Salim menjadi menteri luar negeri pada masa Kabinet Sjahrir II, Kabinet Amir Sjarifuddin, dan Kabinet Hatta periode 1946-1949). Mohammad Natsir, ketika jadi perdana menteri, jasnya masih ditisik.

Bayangkan pejabat sekarang, dapat mobil dan fasilitas. Itu saja masih korupsi. Pejabat tidak mampu melampaui diri dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Hal lain yang menonjol adalah banyaknya pencitraan diri. Sebuah negeri hanya akan bangkit kalau dia dikelola oleh pemimpin.

Karakter lain dari para pemimpin seputar zaman kemerdekaan adalah perkawanan dan kebesaran jiwa mereka. Mereka bisa berbeda ideologi, tetapi perkawanan secara pribadi sangat erat. IJ Kasimo (tokoh Partai Katolik) berkawan erat dengan Natsir (tokoh partai Islam, Masyumi). Bahkan, DN Aidit (tokoh Partai Komunis Indonesia) dan Natsir yang antikomunis bisa ”berkelahi” di Konstituante (lembaga yang bertugas menyusun UUD). Tetapi, begitu selesai rapat, Aidit datang mengambil kopi dan memberikannya kepada Natsir. Tidak salah untuk berbeda pendapat. Sekarang, antar-pengurus partai pun bisa gontok-gontokkan dan terpecah belah.

Jika memang kepemimpinan itu kini meluntur, apa sebabnya?

Sederhana saja, kita segera ingin menikmati kemerdekaan sehingga begitu merdeka segala fasilitas diambil dan lupa bahwa ada yang lebih besar dari sekadar SAYA.

Ancaman terbesar terhadap Republik Indonesia?

Korupsi. Keruntuhan kerajaan Ottoman salah satu faktornya adalah korupsi para elite kerajaan. Jika melihat ke belakang, kejatuhan Soeharto juga tak lepas dari isu korupsi, kolusi, dan nepotisme sehingga memunculkan istilah kroni-kroni Soeharto.

(Di dalam buku Tajuk-Tajuk Mochtar Lubis di harian Indonesia Raya 2 lewat tulisan berjudul ”Kebudayaan Korupsi Pasti Membawa Kehancuran” pada 5 Januari 1970, Mochtar Lubis juga mengingatkan bahaya korupsi. Di samping kekuatan dan unsur sejarah lain, korupsi memegang peran dalam keruntuhan kerajaan-kerajaan. Romawi tak hanya runtuh karena kekuatan baru dari utara dan timur Eropa, tetapi juga dari dalam negeri sendiri akibat meluasnya korupsi dan demoralisasi kalangan Caesar dan senator Romawi. Demikian pula rezim tsar Rusia dan rezim Louis XIV di Perancis).

Selain itu, juga harus dipahami dalam proses meng-Indonesia itu, kita berbeda-beda. Papua baru mengenal Indonesia pada 1946 ketika Sam Ratulangi (tokoh intelektual dan pergerakan) dibuang ke Papua (Serui). Sumatera dan Jawa, misalnya, lebih dulu meng-Indonesia. Dengan adanya proses yang berbeda ini, dibutuhkan kebijaksanaan dalam para pemimpin di Indonesia. Pancasila yang dirumuskan bagi seluruh rakyat Indonesia itu dapat menjadi pegangan. Ketika bicara keadilan sosial, misalnya, harus tuntas hingga kalimat ”bagi seluruh rakyat Indonesia”, bukan hanya adil bagi sebagian orang.

Pada pengujung perbincangan itu, Anhar dengan semangat bercerita tentang agendanya pada peringatan kemerdekaan. Pagi buta, dia berencana meluncur ke sebuah SMA swasta di bilangan Kepala Gading, Jakarta Utara. Anhar didaulat menjadi pembina upacara dan menyampaikan pidato. Dia begitu antusias. Setiap kali berhadapan dan berbicara dengan anak muda, saat menjadi guru ataupun dosen, Anhar selalu teringat bahwa dia tengah berdialog dengan masa depan dan berharap di antara mereka kelak lahir pemimpin sejati.


Indira Permanasari
www.kompas.com