Sabtu, 29 Agustus 2015

Bom Thailand dan Teror Ekonomi

Serangan bom Thailand terasa mengejutkan. Kendati negara itu sekian lama didera krisis politik berkepanjangan, serangan bom dengan modus teroris itu adalah serangan terburuk di Thailand dalam dekade terakhir ini, khususnya di wilayah ibu kota Thailand, Bangkok.

Ledakan bom di Kuil Erawan, Bangkok, awal pekan ini menewaskan sedikitnya 27 orang dan mencederai belasan orang. Ada yang menduga, serangan bom itu bertujuan meruntuhkan perekonomian Thailand. Dugaan itu boleh jadi benar. Setelah mengalami periode sulit akibat krisis politik dan perseteruan politik semenjak Thaksin Shinawatra digulingkan dari kursi perdana menteri, perekonomian Thailand sulit membaik. Belakangan, perekonomian negeri itu sedang berada di jalur yang positif.

Bahkan, pertumbuhan ekonomi yang tercapai melebihi harapan para ekonom. Ketika politik mulai stabil pula, wajar bila muncul tudingan soal motif ekonomi. Perekonomian Thailand masih tumbuh 0,4 persen pada kurun waktu April-Juni 2015. Naik dari 0,3 persen, pada kuartal sebelumnya. Persentase 0,4 persen ini di atas ekspektasi para ekonom yaitu hanya 0,2 persen.

Belanja pemerintah dan sektor pariwisata juga membaik sehingga mampu menggairahkan dinamika perekonomian. Devaluasi mata uang yuan yang mengakibatkan banyak mata uang di dunia rontok, kendati juga mempengaruhi Thailand, tidak berdampak buruk. Jika dugaan mengenai upaya menjatuhkan perekonomian Thailand itu terbukti benar, maka ada dua hal penting yang dapat ditarik dari peristiwa itu.

Pertama, praktik kekerasan bermodus teror, yang secara simplistis disebut banyak pihak sebagai aksi terorisme, telah mengalami metamorfosis gerakan dan pergeseran target aksi. Kedua, stabilitas ekonomi dan politik tidak menjamin imunitas terhadap serangan teror selama masih terjadi kesenjangan ekonomi.

Dalam sejarah praktik kekerasan bermodus teror massal, seranganserangan brutal biasanya ditujukan pada target untuk menimbulkan korban sebanyak mungkin demi memancing perhatian media massa terhadap suatu kelompok yang berada di balik aksi teror.

Serangan bom di Bangkok memang menimbulkan korban yang besar, namun jelas tidak dirancang untuk target korban yang bersifat massif. Kecurigaan teror ekonomi karenanya sangat beralasan. Teror ekonomi dapat disebut sebagai ”genre” baru dalam sejarah kekerasan teror di berbagai belahan dunia.

Dalam situasi ketika perekonomian setiap negara tergantung satu sama lain, krisis ekonomi pada satu negara akan dengan cepat menular ke negara-negara lain dan mewabah menjadi kehancuran global. Dimensi itu penting untuk dicermati pihak intelijen dan pengelola negara agar mampu menangkal kemungkinan teror ekonomi di masa depan.