Sabtu, 29 Agustus 2015

Dua Tahun Kinerja Ganjar-Heru

Minggu, 23 Agustus 2015, tepat dua tahun Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko memimpin Jawa Tengah. Jika pada satu tahun pertama Ganjar-Heru banyak dikritik lantaran banyak program yang belum berjalan, pada tahun kedua inipun, kritik belum hilang. Beberapa kalangan menyatakan, Gubernur belum berhasil mewujudkan janji-janji kampanye saat pemilihan gubernur walau harus diakui ada beberapa kemajuan selama dua tahun mereka memimpin.

Pembangunan jalan, yang merupakan fokus perhatian Ganjar, terlihat mengalami perkembangan kendati kerja lebih keras harus terus digenjot agar hasil akhir benar-benar maksimal dan sesuai dengan anggaran yang telah dikucurkan. Infrastruktur adalah prasarana, jadi merupakan ‘’syarat’’ sebelum sektor lain dapat berjalan. Karena itu, sangat dimengerti apabila pembangunan jalan menjadi fokus. Terlebih, kualitas jalan di Jateng tergolong buruk.

Di luar persoalan infrastruktur jalan, masih banyak pekerjaan lain yang harus dituntaskan karena menyangkut kepentingan masyarakat luas secara langsung, terutama masyarakat kelompok marjinal, pekerja informal, dan pedesaan. Program kartu tani dan kartu nelayan yang dulu digembar-gemborkan selama kampanye paling banyak menuai kritik. Distribusi kartu tani sampai saat ini baru 240 buah di Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang.

Problem kemiskinan juga belum terasa sebagai prioritas sasaran program. Belum lagi sektorsektor lain seperti sektor pekerja informal dan industri mikro-kecil, sektor pendidikan, dan sektor pertanian. Konflik-konflik akibat benturan pendapat antara masyarakat dan kepentingan pembangunan, seperti misalnya pembangunan PLTU Batang, pendirian pabrik semen di Rembang, konflik Urut Sewu, dan sebagainya, belum juga dapat teratasi.

Sudah pasti, sebagai gubernur, Ganjar memiliki keterbatasan ruang dan waktu untuk menghampiri begitu banyak pekerjaan di seluruh wilayah Jawa Tengah. Untuk itulah, keberadaan Heru Sudjatmiko sebagai wakil gubernur diharapkan mampu membagi beban yang ditanggung gubernur. Manajemen kepemimpinan gubernurwakil gubernur perlu dikelola lebih baik agar tidak timbul kesan Ganjar seolah berlari sendirian. Gubernur adalah leader sekaligus manajer.

Kritik terhadap kinerja Ganjar-Heru selama dua tahun memimpin tidak lantas menihilkan sama sekali beberapa kemajuan yang telah dicapai. Kritik itu hanya untuk mengingatkan bahwa Ganjar-Heru masih punya waktu tiga tahun lagi, yang relatif singkat, untuk menuntaskan janji-janji yang dulu pernah disampaikan ke publik. Pemenuhan janji itu akan makin berat ketika kondisi ekonomi makro sedang tidak menggembirakan ditambah dinamika politik ‘’tahun pilkada’’.