Sabtu, 29 Agustus 2015

Strategi Jalur Samudera Cheng Ho

Apa sesungguhnya keuntungan strategis dari Jalur Samudera Cheng Ho bagi dunia pariwisata Jawa Tengah? Menteri Pariwisata Arief Yahya menegaskan, Kota Semarang menjadi tumpuan utama program wisata berbasis jejak pelayaran Laksamana Cheng Ho itu.

Bahkan dari ”rute samudera” dalam peta pariwisata Nusantara itu, Jateng diharapkan bisa memetik setidak-tidaknya dua juta wisatawan pada tahun ini dibandingkan sebelumnya satu juta orang.

Jalur Samudera Cheng Ho dimulai dari Banda Aceh, Batam, Bangka Belitung, Palembang, Jakarta, Cirebon, Semarang, Tuban, Surabaya, dan berakhir di Bali. Semarang dinilai sebagai titik utama, karena memiliki Kelenteng Sam Poo Kong dengan keterkaitan kekuatan historis sosok Cheng Ho.

Kepala Dinas Pariwisata Jateng Prasetyo Ariwibowo mendukung paket Jalur Samudera dengan rencana membuka konektivitas Kota Semarang dengan daerah lain. Peta wisata yang mengkilas balik perjalanan muhibah Cheng Ho itu, sebenarnya adalah rute yang bersifat konektivitas untuk mengaitkan destinasi wisata di Tanah Air.

Hakikatnya, konektivitas menjadi kunci agar sebuah destinasi wisata tidak berhenti tanpa terproyeksikan terhubung dengan destinasi yang lain. Intinya adalah akses, yang merupakan ”kunci” bagi ”pintu masuk” ke destinasi mana pun yang dipilih sebagai paket oleh para wisatawan.

Spirit Dinbudpar Jateng untuk membuka konektivitas Kota Semarang dengan daerah lain, misalnya dengan Solo dan Yogyakarta yang selama ini terelasi lewat Joglosemar, sejatinya juga mewacanakan pentingnya penguatan akses.

Yakni dari dan ke Ibu Kota Jawa Tengah ini. Diskusi publik tentang tuntutan peningkatan infrastruktur, terutama di kalangan pelaku ekonomi dan pegiat pariwisata, merupakan salah satu realitas yang dihadapi.

Posisi strategis Semarang dalam peta pelayaran Cheng Ho, pada 2014 sebenarnya juga sudah menjadi proyeksi menteri pariwisata (waktu itu) Marie Elka Pangestu. Kelenteng Sam Poo Kong, apabila dipromosikan lewat paket-paket yang masif dan efektif, merupakan magnet untuk menarik wisatawan terutama Tiongkok.

Di sini tentu termasuk memperkuat sisi- sisi pendukung seperti kemudahan visa dan jaminan kenyamanan fasilitas teknologi informasi. Maka Jalur Samudera Cheng Ho tidak cukup hanya menjadi peta imajiner dalam pemasaran pariwisata Indonesia.

Kementerian Pariwisata, bersama seluruh stakeholder, perlu segera bergerak membuka akses dan konektivitas destinasi di semua titik dari Aceh hingga Semarang, Tuban, dan Bali dengan penyiapan komprehensif semua yang berbau Sang Laksamana. Lagi-lagi, konsep mestinya harus mampu mendorong pamaujudan infrastruktur.