Sabtu, 22 Agustus 2015

Urbanisasi

Mereka sebenarnya telah tercerabut dari akar kehidupan tradisional akibat godaan konsumerisme materialistis dan rasionalisme sekularistis. Warisan ide kolonial yang mengejawantahkan sistem pendidikan di negeri ini membuat banyak lulusan perguruan tinggi bermimpi menjadi pegawai dengan gaji bulanan, tunjangan, pangkat, serta gengsi. Riza menuliskan, generasi muda dengan mentalitas priayi hanya akan menjadi “manusia kantor”.

Di balik status sosial dan kehormatan, mereka sebenarnya telah tercerabut dari akar kehidupan tradisional akibat godaan konsumerisme materialistis dan rasionalisme sekularistis. Sayangnya, Riza tidak memaparkan fakta sejarah kolonial yang menggerakkan para calon priayi datang ke kota. Tulisan ini hendak melengkapi agar terlihat jelas benang merah sejarahnya.

Kota Jakarta masih menjadi jujugan (tempat tujuan) utama bagi kaum perantau. Bahkan sampai ada guyonan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) saja kepincut atau tergoda meninggalkan tanah Surakarta demi merengkuh mimpi politiknya di Ibu Kota. Boleh dikatakan, presiden ketujuh republik ini adalah wong nglembara atau manusia perantau.
  
Seabad lampau, sebelum Batavia padat penduduk dan menawarkan gula-gula bagi kaum perantau, sesungguhnya Kota Solo merupakan daerah favorit warga dusun yang bersemangat mencari sesuap nasi dan bermobilitas sosial. Dari pembedahan dokumen sejarah, tergambar kota yang di era kolonial disebut sebagai “tempat jantung Jawa berdetak” ini ternyata lebih unggul selangkah dibandingkan Jakarta. Dibilang unggul lantaran ada dua kerajaan tradisional pewaris Mataram Islam yang pamornya masih kuat, yaitu Keraton Kasunanan dan Mangkunegaran.

Lapangan pekerjaan di kota ini tersedia luas karena lembaga tradisional tersebut rajin merekrut ratusan pegawai untuk melancarkan roda pemerintahan, didukung fasilitas perkotaan yang lumayan maju. Semua itu magnet bagi wong ndeso untuk datang dan mengubah nasib.
  
Manusia pengembara dari pelosok Wonogiri, Karanganyar, Klaten, Sukoharjo, dan Boyolali tempo dulu mbatur (menjadi pembantu rumah tangga) di keluarga bangsawan dan priayi. Mereka mengincar profesi sebagai abdi dalem kerajaan selepas melewati proses nyuwita (magang) di rumah para ndara.

Sedari awal, remaja kampung diperbolehkan orang tuanya angkat kaki dengan secuil syarat, yakni tetap memegang teguh ungkapan klasik “ngluyur yo ben anggere lancur dan mlincur yo ben anggere oleh pitutur”.
Para batur yang notabene wong cilik ini berangkat ke kota bukan sekadar memenuhi kebutuhan perut. Mereka hendak pula mengatrol derajat, menimba pitutur, dan gaya hidup kapriayen orang kota. Dengan cara menjadi pembantu rumah tangga tadi, mereka keluar dari tatanan adat primordial desa sehingga dianggap lancur lantaran berhasil mengadopsi tata krama dan gaya hidup simbol perkotaan. Menurut sejarawan dan sastrawan yang pernah besar di Solo, Kuntowijoyo (2003), realitas di atas melahirkan tipologi urbanisasi tradisional.
  
Dari hasil riset saya dengan metode sejarah lisan, tersembul fakta apik, yakni menjelang bakda, mereka mudik naik kereta dari Stasiun Kota dan Purwosari, andong, dan otobus (1930). Mereka membawa barang bawaan yang dibungkus taplak meja berisi seperangkat pakaian bagus, sisir rambut kadal menek, dan makanan roti. Perhiasan menghiasi di tubuh sebagai bukti kesuksesan di rantau alias pamer diri. Mereka pun mempraktikkan ngadi busana (tata cara bebedan jarik) dan bahasa krama halus yang ditiru dari ndara-nya.

Sederet barang dan perilaku tersebut merupakan ragam simbol priayi kota yang sedapat mungkin diikuti para batur apabila ingin dipandang modern di abad “kemajoean” itu. Selanjutnya, keluarga bekel (lurah), wedana (camat), dan bupati menyekolahkan buah hatinya ke kota. Sebubar mengantongi ijazah dan punya keahlian, mereka menghamba kepada pemerintah “Walanda” sebagai pegawai kolonial (binnenlands bestuur).

Kedudukan empuk pangreh praja di birokrasi tuan kulit putih hanya bisa digapai kelompok cabang atas. Kala itu berlaku diskriminasi di sektor pendidikan. Fenomena ini kita sebut model urbanisasi modern.
Kemudian ada model urbanisasi informal untuk memotret perantau yang menjadi buruh pabrik batik Laweyan, pelayan restoran di Pasar Gedhe, pedagang bakmi keliling dari Gunung Kidul, bakul hik dari Klaten, dan penjaga toko Tionghoa. Sebagai kota industri dan niaga, Kota Bengawan merupakan pilihan terbaik untuk orang-orang yang kalah secara ekonomi, tak berijazah, dan posisinya paling buncit dalam lapisan sosial.

Mudik
  
Ketika bakda dheng (istilah wong Solo menyebut tepat Idul Fitri), mereka telah menginjakkan kaki di kampung dan diikat kembali pepatah lawas, “mangan ora mangan kumpul”. Jadi, maklum tradisi mudik menulang sumsum di masyarakat Soloraya laiknya Presiden Jokowi yang mudik dari Jakarta.

Ingatan sejarah semasa kecil para (calon) priayi ini dipanggil pulang. Terkenang tembang lawas yang digandrungi anak-anak setelah Ramadan rampung, “Dina bakda uwis leren nggone pasa. Padha ariaya seneng-seneng ati raga. Nyandhang anyar sarta ngepung sega punar. Bingar-bingar mangan enak nganti meklar. Terjemahan bebasnya, “Di hari Lebaran sudah kita purnakan puasa. Kita berhari raya, bersenang jiwa dan raga. Berbusana baru, menyantap bersama sega punar. Riang gembira santap enak hingga perut kenyang.

Sebetulnya bukan hanya persoalan memanjakan lidah, pada perayaan spesial setahun sekali ini pemikiran mereka disegarkan terkait aneka nilai filosofi yang terselip dalam bahan makanan yang mereka akrabi semasa kecil. Dalam urap yang dipakai untuk tumpengan penduduk desa, misalnya, terdapat kacang panjang rebus yang dipotong pendek, taoge, kangkung atau bayam, ikan teri, dan telur rebus.

Kacang panjang menjadi simbol permintaan supaya dikaruniai umur panjang. Taoge dalam bahasa Jawa disebut thokolan, bertemali dengan kata thukul (tumbuh). Asa terpacak, tubuh tumbuh sehat dan diganjar selamat.
Kata kangkung dari suku kata kung yang terkandung pula dalam kata langkung (lebih). Unsur ini memikul doa agar rezeki mereka menderas. Kata bayam mengandung suku kata yem atau ayem yang memancarkan harapan agar hidup senantiasa diberi ketenteraman, meski jauh dari orang tua.

Setelah mudik rampung, para priayi akan kembali ke kota untuk memburu materi, mencari pengalaman, dan memperbaiki nasib. Dulu hingga sekarang, urbanisasi memang tidak bisa dicegah karena pemerintah acap abai terhadap pemerataan pembangunan di pedesaan. Wilayah desa hanya dijadikan tulang punggung kebutuhan pangan dan penyedia tenaga kerja yang harganya relatif murah. Inilah yang disebut sejarah berulang.

Penulis adalah dosen sejarah di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

12 Agustus 2015
www.sinarharapan.co