Sabtu, 29 Agustus 2015

Darurat Pembenahan Ekonomi

Dolar AS masih menarik untuk jadi topik pembicaraan. Penguatan dolar AS, atau dengan kata lain, pelemahan rupiah masih terjadi dan sudah mengkhawatirkan. Nilai mata uang dolar AS telah menembus batas psikologis Rp 14.000 dan terus bertengger pada kisaran itu.

Dalam situasi pelambatan ekonomi ini, pemerintah tetap percaya diri dan optimistis. Sikap optimistis memang perlu agar masyarakat tidak panik sehingga berakibat krisis makin buruk. Meski demikian, sikap percaya diri dan optimisme yang diperlihatkan pemerintah tidak berhasil sepenuhnya menutup suasana kepanikan yang menghinggapi pemerintah.

Semenjak rupiah mengalami keterpurukan, pemerintah sering menuding faktor eksternal sebagai penyebab utama mata uang Garuda itu loyo, mulai dari faktor warisan dari rezim masa lalu, krisis Yunani, pelambatan ekonomi global, hingga kepastian atas keputusan suku bunga Bank Sentral AS. Semua faktor itu tidak salah dan ikut memberikan andil dalam dinamika ekonomi dan gejolak finansial.

Namun, terlalu sering menggunakan dalih faktor eksternal dapat meninabobokkan kita pada persoalan yang seharusnya diprioritaskan. Seolaholah, persoalannya hanya rupiah versus dolar sehingga banyak yang lupa bahwa rupiah hanyalah cerminan kondisi perekonomian.

Ketika rupiah terpuruk, itu adalah cermin kelemahan ekonomi. Sangat disetujui apabila pemerintah terus menyerukan optimisme kendati situasi riil di masyarakat sudah dirasakan berat. Optimisme itu penting dan harus.

Tidak terbantahkan bahwa Indonesia masih punya duit, sebagaimana dikemukakan Presiden Joko Widodo awal pekan ini. APBN masih Rp 460 triliun, APBD Rp 273 triliun, dan BUMN masih punya Rp 130 triliun, belum termasuk dana pihak swasta. Namun, pegang duit saja belum cukup untuk memulihkan ekonomi.

Semua dalih dan alasan untuk optimisme, serta daftar penyebab keterpurukan rupiah itu tidak boleh menjadi imaninasi dan membuat kita lupa bahwa ada yang salah dengan perekonomian kita. Kesalahan itu harus diperbaiki dengan cepat oleh tim ekonomi yang kuat dan kreatif.

Kendati sudah agak terlambat, reshuffle kabinet terakhir telah memperlihatkan komposisi tim ekonomi yang jauh lebih baik dibanding tim sebelumnya. Artinya, masih ada harapan. Meski tetap harus optimistis, pemerintah perlu untuk juga jujur dalam menilai situasi yang sedang berlangsung.

Selain pembenahan terhadap fundamental ekonomi, langkah-langkah taktis untuk melindungi khalayak miskin harus segera ditempuh. Ekonom Faisal Basri mengusulkan pengurangan harga bahan bakar minyak. Ada pula politikus yang menyarankan pembentukan pusat krisis. Apapun itu, kita sedang menghadapi darurat pembenahan ekonomi.

27 Agustus 2015
http://berita.suaramerdeka.com/