Sabtu, 29 Agustus 2015

Dunia Berkeadilan dan Berkeadaban

MUNAS IX Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Surabaya menjadi momen strategis atau bahkan kritis, setelah NU dan Muhammadiyah menggelar muktamar. Dalam muktamar lalu, Nahdlatul Ulama (NU) menetapkan KH Ma’ruf Amin sebagai rais aam dan KH Said Aqil Siradj sebagai ketua umum PBNU. Adapun Muhammadiyah menetapkan Haedar Nashir sebagai ketua umum Pengurus Pusat Muhammadiyah.

Kali ini munas MUI mengusung tema ”Islam untuk Dunia yang Berkeadilan dan Berkeadaban”, di tengah hegemoni dan ”konspirasi” negara-negara yang merasa besar yang kian ”pongah” ingin menguasai negara-negara sedang berkembang. Negara-negara yang dihuni sebagian besar muslim jadi sasaran neokolonialisasi baru.

Penganut dari ajaran Islam yang sejak lahir visioner, membawa kasih sayang bagi seluruh alam, sering mendapat perlakuan tidak adil dan tidak beradab. Misal muslim Rohingnya Myanmar, yang jadi korban genosida, dibakar hidup-hidup, rumah dan hartanya dibakar, justru atas hasutan seorang biksu dengan simbol busana keagamaannya.

Kasus Tolikara Papua pada 1 Syawal 1436 H juga menguras kesedihan dan keprihatinan warga muslim. Mereka yang sudah menjadi warga Tolikara sejak Indonesia merdeka, mendapat perlakuan tidak adil dan tidak beradab justru pada saat mennjalankan shalat Idul Fitri, merayakan hari besar setelah sebulan berpuasa.

Masih banyak kasus lain yang menghiasi media. Ironisnya, dunia nyaris tidak berdaya. Mengapa jika yang menjadi korban umat Islam, selalu tidak ada penyelesaian yang fair, adil, dan beradab? Seandainya oknum muslim melakukan semacam itu, sudah pasti dicap sebagai teroris.

Di sisi lain, negara-negara muslim di Timur Tengah, seperti Yaman sampai sekarang masih labil, masa depan Palestina pun makin suram. Apalagi setelah Masjidil Aqsha yang menjadi kebanggaan warganya, kini dalam genggaman kekuasaan Israel. Syria dan Irak masih dikuasai kelompok teroris yang mengaku kelompok Islam Sunny, Islamic State (IS), yang kerap mengumbar kekerasan.

Namun apakah keberadaan kelompok IS kreasi mereka atau buatan Amerika dan Israel dengan sekutunya yang lain agar mereka mendapatkan alibi dan selamat dari tudingan dunia internasional. Uraian itu adalah sekelumit daftar tantangan global, serta politik luar negeri mereka yang sarat kepentingan ekonomi dan kekuasaan.

Tidak bisa dimungkiri, muslim merupakan warga mayoritas dan mereka telah menjalankan toleransi dengan sangat baik. Namun ketika menjadi kelompok minoritas, mereka mendapatkan perlakuan yang tidak adil, tidak beradab, dan sering tidak manusiawi.

Memberi Makna

Dalam perspektif internal, MUI memang sering menjadi cibiran dan bahkan sasaran kemarahan. Apalagi pada saat NU dan Muhammadiyah menggelar muktamar, ramai di media persoalan BPJS yang katanya tidak halal dan belum sesuai denga syariah. Sebagian masyarakat berkomentar sinis kepada MUI.

Tetapi pemerintah justru merespons secara positif, dan menggodok persiapan pembukaan BPJS syariah. Persoalan lain yang tidak kalah penting, adalah angka pengangguran yang makin hari makin besar, sementara lapangan pekerjaan yang tersedia tidak mampu menampung.

Tetapi tampaknya, political will Presiden Jokowi lebih senang menerima tenaga kerja dari Tiongkok, sampai-sampai menghilangkan persyaratan keterampilan berbahasa Indonesia. Dari hasil Munas IX MUI, wajar bila muslim menaruh harapan, bagaimana MUI bisa mengikhtiarkan Islam benar-benar memberi makna bagi keterwujudan dunia yang berkeadilan dan berkeadaban.

Pertama, MUI perlu merumuskan program besar, strategis, dan diplomatis, untuk bersama-sama pemerintah supaya umat dan negara muslim, mendapatkan posisi tawar setara dengan negara besar dan maju.

Kedua, merumuskan program pemberdayaan ekonomi umat yang berbasis korporasi dengan melibatkan pengusaha muslim yang kuat sehingga dapat membuka banyak lapangan pekerjaan.

Ketiga, menyiapkan program berupa roadmap pembuatan payung hukum bagi lembaga keuangan syariah yang hingga kini masih didominasi lembaga keuangan konvensional. Masyarakat sering bereaksi negatif namun hal itu disebabkan oleh kekurangpahaman mereka.

Keempat, terus menyosialisasikan Islam versi Indonesia yang moderat dan inklusif ke berbagai belahan dunia.Upaya itu supaya model keberislaman yang garang, penuh kekerasan menjadi tidak laku, bahkan tidak ada lagi IS dan sejenisnya karena semua itu tidak sejalan dengan Islam yang rahmatan lil alamin.

27 Agustus 2015 oleh: Ahmad Rofiq
http://berita.suaramerdeka.com/