Sabtu, 22 Agustus 2015

Jurnalisme Berdaya Jelas

Jurnalisme berdaya jelas atau explainatory journalism perlu digalakkan kembali ketika seluruh sendi kehidupan kita dipengaruhi media sosial dan atau sejenisnya dengan segala konsekuensinya. Sejumlah pakar, termasuk Richard Florida, dosen Universitas Toronto, Kanada, berpendapat peran explainatory journalism?yang merupakan bagian  melekat dengan media mainstream?perlu digalakkan kembali sebagai bagian dari upaya menggiring masyarakat ke arah yang benar.

Hal ini dilakukan ketika teknologi dengan seluruh sistemnya  mengubah perilaku konsumen dan proses penyebaran informasinya  melanggar semua standar yang dipatuhi media mainstream. Pola pikir konsumen informasi, kata Richard dalam bukunya, The Great Reset, menjadi sangat linear. Apabila tidak diatasi, peran otak, emosi, dan konsentrasi manusia akan tergerus karena sebagian besar peran berpikir dan berasa dari konsumen, diambil alih teknologi.

Perubahan norma jurnalistik media mainstream sudah terlihat pada dasawarsa ‘80-an dengan munculnya jurnalis foto yang dikenal dengan julukan paparazi atau tukang kuntit. Mereka menembus narasumber yang umumnya selebritas, tokoh politik dan bisnis dengan berbagai cara dalam perangai kerja yang agresif serta tidak mengindahkan risiko yang dihadapi narasumber. Media mainstream memerlukan foto eksklusif karena berdaya jual tinggi. Kematian Lady Di, Princess of Wales pada 31 Agustus 19997 di Paris, tidak terlepas dari keberingasan paparazi yang memburu mobil Lady Di dan pacarnya, Dodi Al Fayed.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, jurnalisme tukang kuntit mengalami transformasi ke suatu bentuk lebih lunak yang dikenal dengan infotainment (information entertainment) dengan mengekspos kehidupan pribadi selebritas. Publikasi kehidupan pribadi selebritas dan seluruh kegiatan artistik mereka pada dasarnya suatu hal yang sah-sah saja.  Namun, bila mengacu kepada definisi infotainment, fokus peliputan bukan semata selebritas, tetapi juga bidang-bidang lain seperti pendidikan, di antaranya pengajaran Matematika dan bahasa asing. Hal yang kedua itu lebih menyangkut cara dan proses pengajaran yang disampaikan secara rileks agar anak didik tidak bosan. Pengertian kita tentang infotainment sebagai bagian yang melekat dengan selebritas, tak perlu dipersoalkan karena itulah kita, Celebrity Society.
   
Banyak pihak yang mengeluh bahwa alokasi jam tayang yang begitu panjang pada waktu ramai (prime time) mengesankan bahwa selebritas adalah tokoh sentral dalam kehidupan bermasyarakat. Siaran langsung  berjam-jam atas pernikahan selebritas meneguhkan kesan tadi. Memang sulit dibantah, jurnalisme selebritas meraup iklan yang begitu besar karena pemirsa memusatkan perhatian kepada sesuatu yang menarik, sesuatu yang erotik; yang dikorbankan dalam infotainment adalah kepantasan.

Media Sosial
 
Penemuan teknologi baru seperti smartphone, Youtube, Facebook, dan Twitter membawa norma baru dalam penyebaran informasi dan mengubah sistem kepercayaan konsumen terhadap informasi yang disalurkan outlet tadi. Ini merupakan akibat dari karakter jurnalistik  yang melibatkan pengguna dalam jumlah besar (massive participation) dan proses produksi yang serba-instan. Akibat dari karakter semacam itu, konsumen tak perlu percaya akan apa yang disimaknya.
  
Muncul pertanyaan: apakah standar kerja media sosial bisa  digolongkan ke dalam mashab jurnalistik? Jawabannya ya, kecuali satu persyaratan yang dicopot yakni kepercayaan. Media sosial tak memerlukan itu. Ini memang subjektif dan subjektivitas itu mulai menjalar ke media televisi mainstream, terutama saluran berita.
   
Penulis mengangkat sebuah contoh. Seorang pendeta di sebuah gereja Indonesia di negara bagian Maryland, AS, dalam khotbahnya mengeluh tentang betapa kasarnya kampanye pemilihan presiden tahun 2014 di Indonesia di media sosial. Ejekan, cemoohan, dan fitnah antara dua kubu calon presiden merupakan sajian utama media sosial, terutama Facebook. Seusai kebaktian, beberapa jemaat terlibat dalam diskusi tentang apa yang telah disampaikan sang pendeta. Ketika giliran saya angkat bicara, saya mengatakan, media sosial tak perlu dipercaya karena kepercayaan bukan merupakan keutamaan. Hasilnya nanti akan berbanding terbalik dengan apa yang dikatakan media sosial.
  
Benar saja, proses pemungutan suara berlangsung mulus dan hasil awalnya dapat diketahui pada hari yang sama. Standar kerja Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan semua pihak yang terlibat–terutama para relawan–sudah berada dalam satu kelas dengan kerja KPU Amerika Serikat (AS) yang sudah ratusan tahun menjalankan pemilu. Sekadar perbandingan, India yang dikenal sebagai gudangnya pakar teknologi informatika dan wilayahnya kontinental, proses pemilu perdana menteri yang berlangsung baru-baru ini memakan waktu dua minggu untuk mengetahui siapa pemenangnya.

Penulis adalah wartawan dan anggota National Press Club, Washington DC.

21 Juli 2015
www.sinarharapan.co