Sabtu, 22 Agustus 2015

NU Teguhkan Islam Nusantara

Pertama-tama kita menyampaikan selamat kepada seluruh warga Nahdliyin atas digelarnya Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, 1-5 Agustus 2015. Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, peran Nahdlatul Ulama sangat signifikan dalam mengedepankan nilai-nilai Islam yang moderat dan  toleran  di Tanah Air.

Penyelenggaraan muktamar NU kali ini mendapat respons yang sangat besar dari para kader NU di berbagai pelosok daerah di Indonesia. Mereka berharap penyelenggaraan perhelatan akbar itu bisa berjalan lancar dan sukses. NU sebagai organisasi Islam terbesar memang sepantasnya menjadi acuan dalam hal moralitas. Muktamar NU harus memberikan keteladanan baik dalam hal keagamaan maupun secara organisatoris. Jangan sampai Muktamar NU seperti partai politik. Organisasi NU harus jauh dari segala kebisingan, hiruk pikuk, apalagi perpecahan pada saat pemilihan pengurus baru maupun pascaterpilihnya ketua baru.

Berbagai kalangan pun sangat berharap peran NU di dalam memperjuangkan penegakan nilai-nilai moral dan penyelesaian berbagai persoalan bangsa. Terutama permasalahan sosial yang bisa berdampak buruk bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pesan itu pula yang disampaikan Presiden Joko Widodo ketika membuka Muktamar ke-33 NU di Jombang, Sabtu (1/8). Presiden berharap NU bisa berperan menjadi jembatan peradaban di Tanah Air dan juga dunia. Harapan itu tentu tidak berlebihan mengingat NU sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia.

NU sejak awal kelahirannya memang selalu mengedepankan nilai-nilai Islam yang moderat, toleran, sehingga berbagai negara di dunia sangat tertarik belajar mengenai perkembangan dan kemajuan Islam di Indonesia. Terakhir, ketika berkunjung ke Indonesia belum lama ini, Perdana Menteri Inggris David Cameron menyatakan sangat tertarik dengan sejarah Islam yang moderat, maju, dan toleran di Indonesia. David Cameron malah menyempatkan diri berkunjung dan berdialog dengan tokoh-tokoh Islam di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta.

Bagaimana menyosialisasikan nilai-nilai positif tentang Islam di Indonesia itu ke dunia internasional? Apa yang bisa dilakukan kalangan warga NU dan ormas-ormas di bawah NU? Untuk itu, beban dan tanggung jawab pemimpin baru NU ke depan tentu sangat berat, terutama di tengah berkembangnya arus paham radikalisme atau kekerasan atas nama agama, terorisme di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia, Indonesia diharapkan bisa memberikan contoh yang baik dengan mengedepankan bahwa Islam itu adalah agama yang damai dan menghargai kemanusiaan. Apa yang terjadi dengan munculnya kelompok ISIS di Timur Tengah atau kelompok-kelompok lainnya  seperti di Afrika telah merusak atau mencoreng citra Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin tersebut.

Nah, di sini peran NU bersama dengan organisasi Islam lainnya sangat penting dengan menampilkan Islam yang sejuk, damai, dan menghargai kemanusiaan. NU juga diharapkan bisa meningkatkan kerja sama dengan berbagai kalangan guna menciptakan tatanan dunia baru yang berkeadilan. Sejak awal berdirinya organisasi NU telah banyak berkontribusi bagi kepentingan bangsa dan negara.

Banyak hal positif yang telah dilahirkan dari organisasi NU dan hal itu masih tetap relevan hingga saat ini maupun di masa mendatang. Selama ini NU juga telah berkontribusi dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari berbagai ancaman, bahkan organisasi ini termasuk membidani lahirnya NKRI.  

NU selalu bersikap tegas dan berada di garis paling depan dalam menjunjung semangat kebangsaan dan sangat menghargai kebinekaan. Karenanya, wajar jika NU selalu menjadi rujukan pemerintah dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa, terutama menyangkut bidang-bidang yang sensitif seperti radikalisme, dan terakhir mengenai Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang difatwakan haram oleh MUI.

Demikian pula mengenai Islam Nusantara yang sempat menjadi pro dan kontra. Namun, dalam Muktamar NU di Jombang justru Islam Nusantara diteguhkan. Dalam penjelasannya, KH Said Agil Siroj menegaskan bahwa Islam Nusantara bukan mazhab, firqah atau aliran baru, melainkan tipologi menjadi ciri khas Islam orang-orang di Nusantara, yakni laku Islam yang melebur harmonis dengan laku budaya Nusantara yang sesuai syariat.

Dinamika dan berbagai persoalan di masyarakat kemungkinan selalu terjadi dan akan terus muncul seiring dengan kemajuan zaman. Apalagi bangsa ini sangat beragam dengan suku, budaya, agama, ras dan antargolongan, sehingga sangat mungkin terjadi gesekan.

Di samping itu, terdapat persoalan riil dan perlu penanganan serius yang sedang dihadapi seperti kemiskinan, keterbelakangan, dan ketimpangan sosial. Persoalan itu dinilai sebagai salah satu akar munculnya gerakan radikalisme. Meski hal itu tugas pemerintah, tentu saja dibutuhkan dukungan dari berbagai elemen masyarakat, termasuk peran serta NU agar paham radikalisme bisa dihentikan. Kita berharap kepengurusan baru NU yang terpilih nanti mampu menjawab berbagai tantangan dan persoalan ke depan yang kian berat.


03 Agustus 2015
www.sinarharapan.co