Sabtu, 29 Agustus 2015

Reorientasi Dakwah Islam

NAHDLATUL Ulama (NU) dan Muhammadiyah sedari dulu mempunyai hubungan sangat erat karena samasama ahlus sunnah, memedomani Alquran dan hadis, dan bersikap moderat. Pendiri NU, KH Hasyim AsyĆ­ari, dan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, kebetulan juga nunggal guru pada KH Sholeh Darat.’ Usai bermuktamar, idealnya kedua ormas itu mengambil langkah-langkah yang dijiwai semangat kebersatuan sehingga makin mengukuhkan kekuatan umat Islam Indonesia. Muktamar NU di Jombang mengetengahkan tema Islam Nusantara.

Tema ini mengandung arti berorientasi pada masa lalu menyangkut keberhasilan ulama, kiai, atau mubalig dalam dakwah sehingga Islam dipeluk mayoritas bangsa kita. Muktamar Muhammadiyah di Makassar mengemukakan tema Islam berkemajuan, yang mengandung implikasi futuristik dan modern. Tema itu bukan sesuatu yang baru, mengingat sedari awal KH Ahmad Dahlan mengemukakan cita- citanya membimbing umat Islam supayamaju. D a l a m muktamar ke- 46 di Yogyakarta tahun 2010 diputuskan memasyarakatkan Islam yang berkemajuan supaya terwujud umat Islam yang maju. Perspektif Islam Nusantara pada intinya menggambarkan dakwah para ulama, kiai, atau mubalig pada masa lalu di wilayah kepulauan yang kemudian disebut Indonesia.

Dakwah itu dilakukan dengan damai dan santun sehingga tidak menimbulkan pertentangan ataupun penentangan. Para mubalig yang menunjukkan keberhasilannya dalam dakwah itu terutama mereka yang disebut Walisongo, yaitu Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Drajat, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Giri, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati. Faktor keberhasilan mereka antara lain pertama, dakwah dilakukan secara arif dan bijaksana, damai dan santun serta berupaya mengakomodasi budaya dan kearifan lokal yang kemudian diisi ajaran Islam. Kedua, kebanyakan dari mereka beraliran sufi sehingga memudahkan memasukkan ajaran Islam kepada penduduk yang semula Hindu yang berpegang pada teologi panteisme. Ketiga; mereka berdakwah melalui berbagai bidang kehidupan seperti perdagangan, pernikahan, pendidikan, politik, sosial, dan seni budaya. Keempat, karena ajaran Islam mudah dipahami, lentur, dan tak mengenal kasta. Namun dakwah para wali itu belum selesai sehingga perlu diteruskan oleh mubalig generasi penerus. Pekerjaan rumah yang harus mereka selesaikan adalah masih banyaknya umat yang keislamannya baru sebatas pengakuan.

Mereka bukan saja belum sepenuhnya mengamalkan melainkan ada sebagian yang menentang ajaran Islam. Di samping itu masih ada sinkretisme. Oleh karena itu perlu reorientasi model dakwah guna menyempurnakannya. Kiai Ahmad Dahlan hidup pada zaman penjajahan Belanda. Ia melihat bangsanya terbelakang dan tertinggal dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan sosial, serta kejumudan berpikir di kalangan umat Islam. Maka sejak mendirikan Muhammadiyah, ia sudah menyeru kepada umat Islam untuk memiliki pemahaman Islam berkemajuan supaya tidak tertinggal dari bangsa lain yang sudah maju. Model Terbaru Sebagai ulama, ia mempelajari pendapat imam mujtahidin dan mujadid tetapi ia tidak terikat pada pendapat sesorang dari mereka.

Untuk memajukan umatnya ia mendirikan sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan anak yatim. Waktu itu ia mendirikan lembaga Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO. kini PKU), pengamalan secara modern Surah Al Ma’un. Dia senantiasa mengajak umat Islam mengikuti kemajuan iptek, bersikap terbuka terhadap budaya Barat yang tidak bertentangan dengan Islam. Selain itu, kembali kepada kemurnian (purifikasi) ajaran Islam sesuai dengan tuntunan Alquran dan hadis. Sehubungan kemajuan iptek, pelaksanaan dakwah pun ditinjau dengan kacamata iptek.

Pernah muncul konsep dakwah jamaah, kemudian dakwah kultural. Model dakwah kultural merupakan reorientasi dari dakwah yang semula lebih mengarah purifikasi tapi mendapat resistensi dari sebagian masyarakat. Model terbaru dakwah berdasarkan keputusan Muktamar Ke-47 Muhammadiyah adalah dakwah komunitas. Dalam tinjauan ilmu komunikasi, mubalig (komunikator) harus memperhatikan kondisi orang yang didakwahi (komunikan), apakah dalam bentuk audiens (jamaah), publik, atau massa. Komunikan itu pun bisa berupa kelompok tingkat atas, menengah atau tingkat rendah dan pinggiran.

Bisa juga kelompok militer, polisi, pegawai, buruh, petani, pelayan, musikus, dan sebagainya. Mubalig atau dai harus memperhatikan latar belakang pengetahuan, pendidikan, pengalaman, dan kebudayaan dari kelompok itu. Jadi, ia pun harus menyesuaikan materi, metode, dan media dakwahnya demi efektivitas penyiaran Islam.

H Ibnu Djarir