Sabtu, 29 Agustus 2015

Mari Kita Satukan Tujuan

Peringatan Hari Kemerdekaan Ke- 70 Republik Indonesia, 17 Agustus kemarin, mengetengahkan momentum beberapa segi keprihatinan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Utamanya dalam menyatukan visi membangun kehidupan bidang ekonomi, penegakan hukum, pendidikan, dan relasi sosial di bawah baju moralitas karakter bangsa. Pencapaian membanggakan seperti apa yang menonjol hingga 70 tahun kemerdekaan ini?

Pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo mengekspresikan suarasuara dan wajah keprihatinan itu, namun dengan optimisme untuk bergerak menuju perbaikan. Hanya, optimisme itu membutuhkan syarat-syarat yang merupakan iktikad membangun kekuatan karakter. Kita membutuhkan visi kesatuan. Perbedaan adalah keniscayaan dalam kehidupan demokrasi, namun dengan tujuan yang satu, yakni perbaikan dan peningkatan taraf hidup rakyat.

Perekonomian yang pada satu sisi merupakan pantulan tekanan kondisi global, berada pada titik ikhtiar mendorong perbaikan melalui perombakan Kabinet Kerja Jokowi. Sektor krusial lain, penegakan hukum memperlihatkan moralitas yang justru mengancam pencarian rasa keadilan, ketika tafsir atas kesalahan tergantung pada kemauan lembaga tertentu. Kekompakan antarlembaga merupakan tuntutan mutlak untuk kembali menata moralitas komitmen.

Titik tujuh dasawarsa merdeka patut menggugat kemunduran cara pandang kita terhadap demokrasi. Kriminalisasi para tokoh kritis yang menjadi pilar-pilar pendorong transparansi dan akuntabilitas, jelas memanggungkan sejarah buruk penegakan hukum. Bagaimana kita menghidupkan nurani kejernihan berpikir, berpihak pada keadilan, dan memerangi korupsi, ketika justru muncul kecenderungan pembungkaman bagian dari cita-cita kemerdekaan?

Perjuangan untuk kembali meniupkan ruh kesantunan, kepribadian, dan karakter seperti diimpikan lewat pidato Presiden Jokowi, kita pandang sebagai tugas bersama untuk menegakkan trek perjalanan kemerdekaan. Mereka yang merongrong kekayaan negara dengan berbagai justifikasinya layak disebut sebagai pencoleng demokrasi yang membelokkan cita-cita reformasi. Kita sudah banyak melihat dan merasakan gejala-gejala memuakkan itu.

Revolusi mental dan Nawacita sebagai fundamen janji kampanye Jokowi mesti diwujudkan sebagai kekuatan bangsa menuju perbaikan di semua bidang. Pendidikan karakter, transformasi dan internalisasi kehidupan berbhineka, serta kesantunan dalam interaksi kebangsaan adalah elemenelemen yang secara konsisten mesti kita perjuangkan. Kita sudah terlalu menjauh dari tata krama yang selama ini kita banggakan sebagai karakter keindonesiaan.