Sabtu, 29 Agustus 2015

Ditunggu, Sumbangsih NU dan Muhammadiyah

Sebagai organisasi sosial terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) tampil sebagai salah satu kekuatan sipil yang mempunyai peran besar dalam menopang eksitensi negara Indonesia. Sebagai pendiri NU dan Muhammadiyah, KH Hasyim Asyíari dan KH Ahmad Dahlan adalah dua sahabat yang pernah dalam satu pesantren yang sama di bawah asuhan KH Sholeh Darat.

Ketika sudah selesai belajar di pesantren dan pulang untuk berdakwah, objek dakwahnya berbeda, maka cara dakwahnya pun berbeda pula.

Kelahiran Khittah NU sebagai garis, nilai, dan jalan perjuangan ada bersamaan dengan tradisi dan nilainilai di pesantren dan masyarakat NU. Sedangkan dakwah Muhammadiyah lebih kontemporer dalam pemberdayaan ekonomi umat. Sekarang, warga binaan kedua ulama tersebut telah berkembang dan mempunyai jamaah berjuta-juta di negeri ini.

NU telah menjelma menjadi salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia dan dalam perjalanan negeri ini, komitmen NU untuk negara tidak diragukan lagi dalam menjaga keutuhan NKRI. Para ulama NU telah sukses mengawal perjalanan negara dengan baik sampai detik ini. Tata kelola organisasi pun dalam berdakwah lebih tertata dengan baik dan dipertanggungjawabkan semua aktivitas dakwahnya dalam sebuah muktamar.

Muktamar tersebut berfungsi sangat penting dan strategis, karena tidak hanya membahas program-program NU ke depan, melainkan juga berkaitan erat dengan proses pergantian kepemimpinan (suksesi). KH Sholahudin Wahid, KH Asíad Ali, KH Said Aqil Siroj, dan Muhammad Adnan MA adalah figur-figur terbaik yang dimiliki NU dalam Muktamar Ke-33 di Jombang.

Sedangkan Muhammadiyah melaksanakan Muktamar Ke-47 di Makassar dalam kepemimpinan yang berbeda mulai dari era KH Ahmad Dahlan, KH Ibrohim, KH Hisyam, KH Mas Mansyur, Ki Bagus Hadikusuma, Buya AR Sutan Mansyur, HM Yunus Anis, KH Ahmad Badawi, KH Faqih Usman, KH AR Fachruddin, KH Azhar Basyir MA, Prof Dr Amien Rais hingga Prof Dr Din Syamsuddin. Setiap pemimpin Muhammadiyah sukses dengan ciri khas masing-masing dalam memperdayakan umat.

Kedua muktamar ini hendaknya jangan hanya dimaknai sebagai ajang pergantian pengurus. Muktamar memiliki pesan dan tujuan yang jauh lebih mulia dari sekadar rebutan ketua atau pengurus lembaga.

Kompetisi boleh-boleh saja dalam muktamar, namun tetap harus dilakukan dengan etika dan integritas yang tinggi sesuai ajaran Islam. Jangan sampai karena adanya perbedaan, akhirnya membuat keutuhan umat menjadi berantakan. Tidak diperkenankan pemaksaan dengan segala cara, apalagi menggunakan uang dan melibatkan kekuasaan untuk mencapai pucuk pimpinan ormas Islam tersebut.

Bersaing sehat , sehingga menghasilkan pemimpin yang hebat yang akhirnya dapat memberikan sumbangsih bagi kemajuan bangsa dan negara. Siapa yang terpilih dalam muktamar, warga NU dan Muhammadiyah harus menghormati. Ahmad Riyatno, SAg, MPdI Jalan Medoho Barat 7/9 Sambirejo Gayamsari, Semarang


NU Jangan Terjebak Politik

Salah satu penyebab Muktamar NU di Jombang gaduh sampai membuat Gus Mus menangis dan malu kepada para pendiri NU, menurut saya, adalah syahwat politik para nahdliyyin yang begitu besar dan konflik kepentingan yang melilit para petinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia ini. Sebelumnya dikabarkan, politikus PKB menguasai arena muktamar di Jombang.

Keprihatinan Gus Mus adalah keprihatinan kami semua, kaum nahdliyyin. Pengunduran diri beliau dari pencalonan rais aam adalah kekalahan kelompok Khittah NU di tengah mayoritas politikus atau peserta muktamar yang berafiliasi ke politik praktis. Bukan soal kekalahan penggagas ahlu halli wal aqdi (AHWA) dari kelompok pengusung voting.

Mundurnya Gus Mus sebagai pertanda habisnya tokoh pendukung Khittah NU yang menolak politisasi jamiyah. Setelah wafatnya KH Sahal Mahfudh, kini tidak ada lagi kiai karismatik yang berani melawan arus terhadap derasnya syahwat politik tokohtokoh NU. Kiai Sahal dan Gus Mus adalah sedikit pemimpin Syuriah NU yang dalam diamnya tetap istikamah dan konsekuen menjaga martabat NU.

Saya tidak tahu lagi siapa yang dapat mempertahankan martabat dan perjuangan NU sebagai jamiyah yang mengayomi anggotanya dan menuntun bangsa Indonesia meraih masa depannya. Kalau terhadap NU saja tega membuat gaduh, apalagi kepada orang lain di luar NU. Astaghfirullah al-adziim.