Sabtu, 29 Agustus 2015

Menunggu Paket Kebijakan Ekonomi

Di tengah ekonomi melambat yang ditandai dengan penurunan pertumbuhan, kurs rupiah terguncang. Guncangan hebat sehingga rupiah menembus Rp 14.000 per dolar AS terjadi karena kepanikan dunia akibat Tiongkok mendevaluasi yuan. Dunia khawatir langkah itu memancing perang mata uang yang membuat perdagangan internasional menuju instabilitas serius. Sebelumnya, rupiah juga telah anjlok karena pasar uang dunia merespons isyarat bank sentral AS yang akan menaikkan bunga.

Rupiah yang tertekan makin dalam tentu mengkhawatirkan perekonomian. Penguatan dolar AS berpotensi menaikkan tingkat inflasi, karena ketergantungan kita akan produk-produk impor masih relatif tinggi. Menjaga inflasi identik dengan memihak kepentingan rakyat, sehingga membuat rupiah tidak terus melemah harus dilakukan sekuat tenaga. Dalam rezim devisa bebas, rupiah menjadi mata uang yang bebas diperdagangkan. Untuk itu, otoritas moneter perlu bekerja keras di pasar. Mereka harus selalu siap untuk melakukan intervensi.

Intervensi memang biasa dilakukan Bank Indonesia. Menjaga agar nilai tukar sesuai kekuatan fundamentalnya memang tugas utama BI. Untuk memiliki kekuatan di pasar, cadangan devisa menjadi andalannya. Namun, pasar tidak hanya membutukan cadangan devisa. Bahkan saat krisis pada 1998 kekuatan cadangan devisa negeri ini sia-sia, sehingga rupiah terjun bebas.Pasar lebih banyak digerakkan oleh informasi-informasi yang beredar. Kabar-kabar yang muncul dipersepsikan oleh para pelaku pasar.

Melihat dinamika yang terjadi di pasar uang, untuk membuat rupiah tangguh tidak hanya besaran cadangan devisa yang dibutuhkan, tetapi juga langkah-langkah nyata yang dipersepsikan oleh pelaku pasar sebagai kepedulian dan kesungguhan pemerintah. Dengan demikian tidak hanya sektor keuangan yang perlu mendapat sentuhan, tetapi juga sektor riil. Paket besar yang dijanjikan segera dikeluaran pemerintahan Jokowi diharapkan menyentuh dua sektor tersebut. Penanganan komprehensif memang ditunggu.

Nilai mata uang atau kurs sebenarnya adalah valuasi atas berbagai hal.Peran untuk melakukan valuasi ada di tangan para pelaku pasar. Analisis terus-menerus mereka lakukan sebelum bertransaksi. Pengelolaan negara dan pengelolaan ekonomi menjadi materi analisis itu. Tidak mengherankan bila menjelang atau sesudah pemilu dan pilpres pergerakan kurs lebih dinamis dibanding biasanya. Gambaran itu menunjukkan aspek-aspek politik perlu pula diperhatikan dalam upaya mengamankan rupiah.

Kegaduhan di kabinet tentu saja tidak perlu diperpanjang. Lebih dari itu, pengelolaan ekonomi juga harus terlihat rapi dan kompak. Paket besar ekonomi nanti dijanjikan berupa upaya menarik valuta asing sebanyak-banyaknya dan juga sejumlah kebijakan deregulasi nonkeuangan. Semoga memang demikianlah adanya. Paket kebijakan itu, selain komprehensif harus pula mampu menunjukkan diri sebagai rangkaian keberpihakan pemerintah kepada dunia usaha dan masyarakat, yang ujungnya dibuktikan dengan reaksi positif pasar.

29 Agustus 2015
www.sinarharapan.co