Sabtu, 29 Agustus 2015

Mengenang Bom Hiroshima-Nagasaki

Peristiwa bom Nagasaki dan Hiroshima bukanlah kisah kemenangan Sekutu dalam peperangan. Peristiwa 70 tahun lalu adalah bukti kekalahan umat manusia menghadapi peperangan dan kekalahan umat manusia menegakkan prinsip universal kemanusiaan serta peradaban. Pada 6 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom ” Little Boy” di Kota Hiroshima, Jepang, disusul bom atom ” Fat Man” di Kota Nagasaki.

Dua bom berkekuatan dahsyat itu dijatuhkan setelah enam bulan pengeboman di 67 kota di Jepang. Peristiwa itu kemudian dipandang sebagai ” kesuksesan” mengakhiri kecamuk Perang Dunia II seraya mengenang korban- korban jiwa sebagai ” tumbal” .

Peringatan atas peristiwa tragis itu selalu didominasi suasana perasaan heroik. Heroisme atas perjuangan ” kaum ksatria” dan ” pejuang” membela panjipanji ideologi dengan darah yang ditumpahkan. Padahal, seharusnya kita mengenang peristiwa itu sebagai tragedi kekalahan umat manusia dalam menegakkan perdamaian.

Alih-alih setia pada jalan damai untuk mengatasi konflik, manusia cenderung memilih jalan cepat dengan kekerasan. Alih-alih menggunakan daya kreasi untuk menciptakan peradaban, manusia mencurahkan akalbudi untuk menciptakan senjata-senjata pemusnah. Tragedi Hiroshima-Nagasaki tidak menghentikan hal itu. Bom atom itu membunuh 140.000 orang di Hiroshima dan 80.000 di Nagasaki.

Dampak radiasi bom-bom itu menewaskan ribuan orang lagi berbulanbulan setelah bom dijatuhkan. Radiasi nuklir juga mengakibatkan kecacatan, baik bagi korban yang terkena radiasi langsung maupun generasi-generasi yang dilahirkan sesudah peristiwa itu.

Kengerian akibat dampak bom itu tidak dapat diselesaikan dalam sekejap, bahkan membutuhkan waktu beberapa generasi untuk memulihkan kehidupan yang telah dihancurkan. Apakah kita kemudian belajar dari sejarah? Tidak juga, sebab perlombaan senjata nuklir dan pemusnah massal masih terus terjadi hingga saat ini.

Fakta sejarah memang mencatat, bom Hiroshima dan Nagasaki memaksa Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu dan mengakhiri Perang Dunia II. Namun, peperangan silih berganti datang dan pergi, yang selalu diakhiri dengan penumpasan peradaban serta penghancuran kehidupan.

Banyak konflik dan perang hingga detik ini belum mampu diatasi meski secara kuantitas, jumlah korban jiwa jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah korban tragedi bom atom. Tragedi bom atom belum cukup menyadarkan masyarakat dunia dan para pemimpin untuk menghapuskan kekejaman perang. Ideologi perang selalu dihidupkan kembali melalui narasi-narasi besar militerisme.

Jika direnungkan secara jujur, mungkin terasa absurd apabia hari-hari ini banyak negara, terutama negara-negara yang terlibat langsung dalam Perang Dunia II, memperingati tragedi bom atom dan mengenang peristiwa itu.

Tidak jelas sebetulnya, semangat berpikir apa yang mendasari peringatan tragedi bom atom? Apakah semangat heroisme militeristik, atau keinginan untuk tidak melupakan peristiwa itu agar dunia selalu dapat belajar dari tragedi bom atom? Apakah harus menunggu bom nuklir dijatuhkan lagi, dengan kekuatan yang jauh lebih dahsyat, untuk mengakhiri konflik dan peperangan? Tentu saja tidak perlu apabila dunia bersedia belajar.

Para pemimpin negara akan cenderung memilih jalan peperangan ketimbang jalan damai apabila menghadapi konflik antarbangsa. Peran masyarakat untuk menjaga jalan damai itu sungguh sangat besar. Tanpa tekanan dan desakan moral dari masyarakat, seorang pemimpin yang semula dielu-elukan rakyat pemilihnya bisa berubah dalam sekejap menjadi seorang jenderal perang berdarah dingin.

Hanya apabila masyarakat cinta damai, usaha-usaha pelik diplomasi dan negosiasi damai akan dengan gigih ditempuh. Hanya apabila masyarakat cinta damai, para pemimpin negara akan ” dipaksa” untuk setia pada jalan damai. Itulah pesan moral tragedi Hiroshima-Nagasaki.


 http://berita.suaramerdeka.com/