Sabtu, 29 Agustus 2015

Gerakan Wirausaha di Pedesaan

Bagi sebagian lulusan perguruan tinggi, hidup di pedesaan merupakan tantangan. Berbagai ide menarik yang dibawa dari kampus tidak sepenuhnya bisa diterima dan mudah diterapkan di tengah masyarakat. Kerap gagasan ideal membangun desa tidak semudah yang dibayangkan. Kenyataan menunjukkan bahwa banyak gagasan yang diwacanakan lulusan kampus asal pedesaan hanya tinggal angan-angan.

Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional BPS sampai Februari 2015, angka pengangguran mencapai 7,5 juta atau 5,81% dari jumlah penduduk Indonesia. Dari jumlah tersebut, 3,96 juta penganggur usia muda. Dapat dibayangkan makin bertambah banyak angka pengangguran jika mayoritas masyarakat hanya menunggu lowongan pekerjaan.

Sayang gagasan kewirausahaan belum sepenuhnya disadari sebagian besar masyarakat pedesaan. Kewirausahaan masih belum dijadikan pilihan strategis karena dianggap memiliki masa depan belum pasti. Bisa jadi berhasil atau sebaliknya.

Kemungkinan untuk berhasil dan gagal sama besarnya. Kondisi ini berbeda dari berkerja di kantor atau menjadi pegawai. Seringkali, ketakutan mengambil risiko menjadikan sebagian dari sarjana asal pedesaan enggan berdiam diri di kampung halaman.

Desa dianggap tidak mampu menjadi sarana mengeksplorasi diri. Dibanding perkotaan, wilayah pedesaan secara umum dapat dikatakan masih tertinggal, baik dari segi infrastruktur, fasilitas, keramaian, maupun kemudahan akses informasi. Tidak produktifnya potensi di pedesaan menjadikan desa sepi. Banyak orang harus berkerja di luar untuk mendapatkan nafkah.

Mengatasi permasalahan ini, pemerintah menciptakan berbagai program dengan sasaran utama desa. Wacana dana desa atau pemuda sarjana penggerak pembangunan di pedesaan (PSP3) adalah upaya pemerintah memajukan desa. Program ini dapat diarahkan mengembangkan kewirausahaan di pedesaan yang berlum tergarap. Pasalnya banyak lahan dan potensi di desa yang belum dikelola optimal.

Idealnya, untuk menjadi negara yang sejahtera sedikitnya 2% dari total penduduk sebuah negara adalah pengusaha. Sampai saat ini, Indonesia baru mencapai 1,65%. Jumlah ini jauh tertinggal dengan Malaysia yang sudah mencapai 4% dan Thailand yang mencapai 7% (SM, 28/7/15).

Belum Familiar

Program kewirausahaan ini juga sejalan dengan program Kementerian Ketenagakerjaan yang menargetkan 28 ribu pengusaha di tahun 2015. Bantuan modal, pelatihan dan pendampingan akan difasilitasi kementerian terkait.

Mahasiswa atau sarjana yang memiliki minat berwirausaha serta kepedulian dapat menjadi salah satu penggerak program ini. Rencana ini sudah selayaknya disambut dengan gembira oleh masyarakat. Meski demikian ada beberapa tantangan yang perlu diantisipasi agar program ini dapat berjalan sesuai dengan harapan.

Pertama, belum familiarnya kewirausahaan di pedesaan. Hal ini terjadi karena minimnya akses informasi di pedesaan. Berbeda dari kota di mana informasi dan berbagai bantuan program pemerintah dan swasta mudah didapatkan.

Dampaknya, bagi sebagian masyarakat pedesaan, mindset yang dominan adalah kerja dan kerja. Sangat jarang yang memiliki inisiatif berwirausaha. Selain itu, kondisi masyarakat yang mulai pragmatis menjadikan pertimbangan tersendiri. Jangan sampai batuan yang seharusnya untuk berirausaha justru digunakan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

Kedua, penggalian potensi wilayah. Analisis ini penting dilakukan, agar usaha yang akan dijalankan berjangka panjang. Pemilihan bibit-bibit calon pengusaha, ketersediaan bahan, teknologi dan tenaga ahli juga perlu dipertimbangkan. Jangan sampai rencana usaha hanya menjadi program. Ketiga, penguatan manajemen dan monitoring program.

Kelemahan melakukan evaluasi seringkali menjadikan program tidak berjalan maksimal. Dibutuhkan tolok ukur keberhasilan yang jelas. Sangat disayangkan jika program yang menghabiskan banyak anggaran tidak memiliki hasil maksimal, yakni tercipta 28 ribu pengusaha dan mengurangi angka pengangguran.