Sabtu, 29 Agustus 2015

Pesta Rakyat “Jateng Gayeng”

Jateng Gayeng”. Sudah tepatkah ikhtiar mem-branding Provinsi Jawa Tengah melalui Pesta Rakyat HUT Ke- 65 di Purwokerto, Banyumas selama tiga hari kemarin? Setidak-tidaknya kemeriahan pesta rakyat dalam beragam ekspresi seni-budaya, ekonomi, dan bursa kerja telah menjadi warna yang berbeda dalam merayakan hari jadi provinsi ini, yang pada tahun-tahun sebelumnya dipusatkan di Kota Semarang. Ada kegairahan baru yang ingin ditumbuhkan.

Menyebarkan kegiatan puncak dengan sifat kolosal ke daerah-daerah di luar Ibu Kota Provinsi, akan menumbuhkan gairah tersendiri. Apalagi Jateng sesungguhnya memiliki potensi klasterklaster kebudayaan yang punya kekhasan masing-masing. Banyumas, misalnya. Atau eks Karesidenan Pati, juga Tegal, Kebumen, dan Surakarta. Setiap klaster membawa keunggulan yang memperkayasa silaturahmi kebudayaan di provinsi ini.

Yang dibutuhkan oleh sentuhan pemerintah provinsi adalah totalitas untuk menggarap potensi-potensi itu sebagai keunggulan daerah yang bisa “dijual”dari sisi pariwisata. Perayaan hari jadi akan sia-sia jika pendekatannya lebih ditekankan ke spirit seremoni, karena kepekaan untuk menjual potensi- potensi daerahlah yang sejatinya ditunggu di tengah atmosfer persaingan terutama menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN mulai tahun ini.

Sejumlah daerah di Jateng punya keunggulan destinasi pariwisata baik alam maupun living tourism, juga kekhasan kuliner, produk-produk UMKM, serta kesenian yang menggambarkan filosofi rakyat di daerah yang bersangkutan. Bukankah produk batikbatik lokal seperti Lasem, Bakaran, Tegal, Kebumen, dan Semarang secara komprehensif merepresentasikan latar belakang sikap hidup, sejarah, dan kekuatan ekspresi seni-kebudayaan?

Tagline“Jateng Gayeng” yang dicoba untuk di-branding melalui Pesta Rakyat HUT Ke-65 harus didorong dengan totalitas kesadaran, sikap, ekspresi kerja, dan kesungguhan semua stakeholder provinsi ini. Selama ini, Jateng dicitrakan tertinggal dalam banyak hal dari provinsiprovinsi lain di Jawa, sehingga sering terkesankan tidak ìkebagianî dalam banyak segi yang membangkitkan kegairahan pembangunan infrastruktur dan perekonomian.

Kegayengan pesta rakyat di Banyumas, yang pada tahun-tahun mendatang akan disebarkan ke daerah lain, kita harapkan menjadi cikal bakal pembangunan passion menyeluruh di bidang pariwisata, kebudayaan, dan ekonomi. Kekayaan dalam aspek-aspek itu, ditambah dengan penerimaan masyarakat dalam meramaikan kegiatan yang hakikatnya dari dan untuk mereka itu, saatnya kita gerakkan dan transformasi menjadi gayeng yang sesungguhnya.