Sabtu, 29 Agustus 2015

Penguatan Diplomasi di Asia

NEGARA (nation-state) telah menjadi aktor dalam sistem politik dan hubungan internasional yang par-excelence. Setelah Perang Dunia II berakhir, terlihat percepatan pertumbuhan negara- negara baru sebagai anggota masyarakat internasional.

Perkembangan itu semakin pesat usai perang dingin tahun 1990-an. Kebangkitan ekonomi Tiongkok dan India di kawasan Asia menjadi pemicu kebangkitan negara lain di kawasan itu, tak terkecuali Indonesia untuk bisa bermitra dengan keduanya. Fenomena intergovernmental organization tidak bisa dimungkiri sebagai kebutuhan tiap negara.

Momentum itu direfleksikan oleh Universitas Wahid Hasyim Semarang dengan mengadakan seminar dan konferensi internasional bertema ‘’The Golden Triangle (Indonesia-India- Tiongkok) Interrelation in Religion, Science, Culture, and Economic’’ pada 28-29 Agustus 2015.

Pemilihan tema itu mendasarkan pada harapan bahwa model segitiga emas (Indonesia, India, dan Tiongkok) bisa menjadi poros dunia di bidang agama, ilmu, budaya dan ekonomi. Terdapat beberapa alasan mengapa Indonesia memilih India dan Tiongkok. Pertama, faktor sejarah. Hubungan kita dengan India telah terjalin sejak lama diawali melalui perdagangan. Hubungan dagang itu juga telah mengakibatkan pertukaran kebudayaan, terutama pengaruh budaya dan agama (Hindu dan Buddha) India ke Indonesia.

Dengan Tiongkok pun, sejak lama ada hubungan pelayaran langsung, dan saling memengaruhi banyak hal. Kedua, terletak di satu kawasan Asia yang lebih memudahkan koordinasi. Hubungan dengan India mengacu hubungan bilateral. Kawasan Andaman dan Kepulauan Nikobar India berbatasan langsung dengan wilayah maritim Indonesia di sepanjang Laut Andaman. Adapun dengan Tiongkok, walaupun secara geografis tidak berbatasan langsung, kita mendapat ”berkah” dari jalur sutera. Selat Malaka sedari dulu menjadi pintu gerbang, yang menghubungkan kita dengan pedagang Tiongkok dan India.

Pada masa itu, Selat Malaka sudah menjadi jalur penting dalam pelayaran dan perdagangan bagi niagawan yang melintasi bandar-bandar penting di sekitar Samudra Indonesia dan Teluk Persia. Selat itu merupakan jalan laut yang menghubungkan jazirah Arab dan India di sebelah barat laut Nusantara, dan dengan Tiongkok di timur laut Nusantara.

Penguatan Diplomasi

Ketiga, keanggotaan India dan Tiongkok dalam BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok dan Afrika Selatan). BRICS adalah lima negara dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Dampak dari keanggotaan ini diharapkan bisa memberikan efek positif bagi Indonesia supaya bisa seperti India dan Tiongkok. Bagi Indonesia, semua itu merupakan peluang yang bisa diwujudkan supaya posisi tawar kita makin baik di mata dunia.

Penguatan diplomasi bisa dilakukan lewat diplomasi total, yang melibatkan semua komponen bangsa dalam sinergi dan memandang substansi permasalahan secara integratif. Artinya semua warga negara memainkan peran yang sama penting. Wajah negara kita tidak lagi bergantung pada kemampuan para diplomat karier di forum-forum diplomasi global.

Diplomasi ini melibatkan berbagai kalangan dan komponen masyarakat, seperti akademisi, pengusaha, pers dan media, serta pegiat lembaga swadaya masyarakat dalam mengisi hubungan antarnegara. Pertemuan akademisi, perwakilan negara, pengusaha serta pers kita dengan mitranya dari India dan Tiongkok dapat menjadi embrio sebuah model untuk mewujudkan kekuatan baru di Asia. Bahkan model segitiga emas Indonesia, India, dan Tiongkok bisa menjadi instrumen diplomasi sehingga kita tidak canggung memainkan peran di lingkup internasional.

Dalam rangka mencapai tujuan diplomatik, suatu negara bisa menjalankan tiga model tingkah laku, yaitu cooperation, accomodation, dan opposition (kerja sama, penyesuaian, dan penentangan). (SL Roy; 1991).
Pertama, kerja sama Indonesia dengan India dan Tiongkok dalam berbagai bidang bisa dengan mudah dilakukan. Kedua, penyesuaian yang dilakukan tiga negara diharapkan memunculkan rasa kesepahaman sehingga dapat memimalisasi perbedaan, atau bahkan konflik, khususnya di Asia dan kawasan lain.

29 Agustus 2015 oleh: Anna Yulia Hartati SIPMA
berita.suaramerdeka.com