Sabtu, 29 Agustus 2015

Mewaspadai Keabnormalan Pasar Global

SECARA fundamental, dolar Amerika Serikat (AS) sedang konsisten perkasa mengalahkan hampir semua mata uang dunia. Namun di balik itu, saham-saham di Wall Street, pasar saham AS, tetap mengalami jatuh bangun menyertai kerontokan bursa-bursa saham di Eropa dan Asia belakangan ini. Inikah indikasi terjadi keabnormalan pasar global? Bisa jadi, mengingat arah pasar liar dan sulit diprediksi.

Imbasnya, para pelaku pasar finansial dan saham banyak merugi karena salah prediksi ketika masuk pasar. Secara fundamental, dolar AS masih merupakan satu-satunya mata uang yang paling perkasa di dunia. Para pelaku pasar finansial banyak yang mengambil posisi sell (jual) pada pair (pasangan mata uang) EUR/USD. Artinya, mereka menjual euro (EUR) dan pada saat yang sama membeli USD, dengan prediksi dolar AS akan terus menguat sehingga mereka meraup profit besar. Namun apa yang terjadi sejak minggu terakhir Juli lalu hingga Senin (24/8)? Pasar finansial global menunjukkan respons berbeda, tidak sesuai dengan prediksi fundamental.

Di pasar riilmarket, sejak minggu terakhir Juli hingga Senin (24/8), USD justru menunjukkan reli pelemahan melawan EUR. Terpantau pada 20 Juli 2015, euro diperdagangkan pada harga terendah 1.0807 per dolar AS. Kemudian euro terus menguat hingga Senin (24/8) menjangkau harga tertinggi 1.1712 per dolar AS, yang berarti menguat 905 poin melawan dolar AS hanya dalam sekitar empat minggu. Adapun di Tanah Air rupiah makin tak berdaya, menembus level resisten baru Rp 14.000 per dolar AS. Hampir semua mata uang melemah terhadap mata uang AS itu yang dipicu oleh beberapa faktor fundamental yang menyebabkan ketidakpastian ekonomi global.

Berawal dari krisis Yunani yang terancam gagal bayar utang ke IMF, berlanjut rontoknya pasar saham Tiongkok, dan sentimen negatif dari rencana bank sentral AS, The Fed menaikkan suku bunga acuan, di mana berhembus rumor dilakukan pada September nanti.

Namun rumor tersebut kembali mentah, menyusul pengumuman notulen hasil pertemuan pejabat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dirilis pada Juli lalu, menyurutkan peluang The Fed menaikkan suku bunga pada September.

Kemungkinan mundur lagi karena data pertumbuhan ekonomi AS belum sesuai harapan. Kondisi itu langsung memberi sentimen negatif bagi dolar AS yang kemudian direspons pasar dengan langsung melemah signifikan terhadap sejumlah mata uang dunia, terutama euro.Hal itu membuat minat pasar beralih dari dolar AS kepada mata uang lainnya, dan euro paling mendapat dukungan penguatan dari sejumlah faktor fundamental, terutama terkait optimisme penyelesaian krisis Yunani.

Penguatan Sesaat, Namun, analis pasar memprediksi penguatan euro hanya sesaat atau terbatas, dan ke depan dolar AS tetap meneruskan reli penguatan terhadap hampir semua mata uang. Terlebih di kawasan Asia, kebijakan Tiongkok yang mendevaluasi yuan terhadap dolar AS, disusul Vietnam yang mendevaluasi mata uang dong, dengan tujuan mendongkrak pasar ekspor, justru memicu currency war. Bank Indonesia (BI) menyatakan tidak mau terlibat dalam perang mata uang. Saat ini BI fokus mencari strategi menghadapi tekanan ekonomi global, semakin intens berkoordinasi dengan pemerintah untuk menjaga rupiah supaya tidak terus melemah.

Di antara strateginya adalah memperkuat cadangan devisa untuk intervensi pasar menghadapi dolar AS yang terus menguat. Memang, strategi itu belum sepenuhnya berhasil, terbukti nilai tukar rupiah terus melemah hingga menembus level mengkhawatirkan, Rp 14.000 per dolar AS.

Menghadapi kondisi abnormal pasar global tidak cukup mengandalkan analisis teknikal (bersadarkan data teknis pergerakan harga sebelumnya) ketika memutuskan masuk pasar tapi perlu mempertajam dengan analisis fundamental (memantau perkembangan berita-berita ekonomi dunia). Selain itu, perlu memperketat money management dengan menentukan batas kerugian yang siap ditanggung. Pebisnis sebaiknya melakukan hedging (lindung nilai) atas investasi yang berisiko mengalami kerugian akibat pelemahan rupiah, lewat investasi lain yang lebih prospektif guna menutup kerugian. Bahkan diharapkan bisa meraih keuntungan

28 Agustus 2015 oleh Sarby SB Wietha
http://berita.suaramerdeka.com