Sabtu, 29 Agustus 2015

Optimisme Pertumbuhan Ekonomi

Ekonomi yang melambat telah mengakibatkan pemutusan hubungan kerja di beberapa sektor dan dirasakan masyarakat yang mengalami penurunan daya beli. Di tengah keprihatinan tersebut, Presiden Joko Widodo masih optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa merangkak naik seiring dengan makin meningkatnya belanja pemerintah. Optimisme Kepala Negara pantas disambut secara positif karena pesimisme memang tidak akan menyelesaikan masalah.

Yang terpenting adalah, sikap optimisme itu diikuti dengan tindakantindakan yang optimistis dan kebijakan-kebijakan yang menimbulkan optimisme. Hentikan saja argumen yang terkesan membenarkan peristiwa pelambatan ekonomi karena masyarakat tidak lagi membutuhkan argumen, namun solusi riil atas kesulitan ekonomi yang dihadapi. Kecepatan dan ketepatan bertindak jauh lebih berarti ketimbang argumen-argumen di atas kertas.

Keliru apabila optimisme itu didasarkan pada perbandingan atas angka pertumbuhan yang dicapai negara-negara lain. Berdasarkan angka pertumbuhan pada kuartal II 2015, Indonesia termasuk lima negara tertinggi. Presiden beralasan, negaranegara lain ada yang mengalami penurunan 1,5 sampai 2 persen tetapi Indonesia ‘’hanya’’ menurun 0,45 persen. Presiden mengaku heran mengapa publik ribut dengan penurunan yang tidak signifikan tersebut.

Presiden tidak perlu heran apabila melihat dampak riil, tidak melulu soal angka. Kelesuan ekonomi yang sudah dirasakan di banyak sektor akan terus berdampak secara spiral dan multilapis apabila tidak segera ditangani. Salah satu fakta yang mengherankan publik, sebagaimana diakui Presiden, tingkat penyerapan anggaran hingga Juni 2015 baru sekitar 12 persen dari total APBNP 2015. Artinya, nyaris tidak ada yang dikerjakan selama semester ini.

Sebanyak 88 persen anggaran akan ‘’dihabisi’’ pada semester kedua. Janji tersebut tentu sebuah kabar bagus. Belanja infrastruktur dan modal dari APBN akan menggenjot pertumbuhan dan kembali menggairahkan ekonomi. Persoalannya adalah mengapa hanya 12 persen anggaran yang baru diserap selama semester I? Apa saja kerja kabinet selama ini? Ibarat penyakit, ketika sudah timbul komplikasi pada penderita, genjotan infus bukan jawaban.

Persoalan anggaran telah mengakibatkan penurunan sistem kekebalan tubuh dan banyak komplikasi lain. Dalam kerangka pikir manajemen, ‘’habis-habisan’’ mengucurkan 88 persen anggaran pada semester II juga bukan perkara gampang. Alih-alih meningkatkan perputaran roda ekonomi, implikasinya dapat tidak terkendali dan akibatnya tidak meningkatkan perbaikan ekonomi secara menyeluruh tetapi hanya dinikmati sebagian kecil ‘’pemilik akses ekonomi’’.


http://berita.suaramerdeka.com/